Sesuai janji, kuliner yang ditampilkan dalam tulisan kedua ini adalah Mie Aceh & Roti Cane.Sepasang kuliner khas dari "Bumi Serambi Mekkah", Aceh.
Sedikit mengenai asal-usul perkenalanku dengan Mie Aceh. Dulu aku pernah Dinas Luar (DL) di Medan untuk training & instalasi pragram SIDJP di KPP Madya Medan. Bersama dengan beberapa orang teman, aku kost selama 10 hari di dekat Kantor Bulog. Kebiasaan pulang malam menyebabkan kami sedikit kesulitan mencari makan malam dan yang ada di sekitar situ hanya beberapa warung, salah satunya yang menjual Mie Aceh. Warung yang menurutku cara menghitungnya aneh. Awalnya kami berlima makan menghabiskan dana Rp 48.000, tapi saat kami hanya tinggal berempat, total yang harus dibayar adalah Rp 42.000. Sampai sekarrang aku ga mudheng logika matematika mana yang dipakai ma tu warung....
Ok, cukup dengan pengantarnya.....Langsung saja ke topik bahasan...
Lokasi Kampoeng Aceh cafe (tempat Mie Aceh yang akan dibahas) ada di Jalan Ceger, tepatnya di sebelah Cheger Motor (Ahass H*nda), berseberangan dengan Ahad Mart. Buat mahasiswa STAN yang pengin merasakan Mie Aceh, datang langsung aja. Yang punya cafe orangnya ramah kok, dan dari wajahnya, kelihatannya asli Aceh (ga sempet kenalan...ga pede soalnya).
Aku pesan mie special telur "goreng version" (perlu diketahui, Mie Aceh dapat disajikan dengan beberapa cara, diantaranya goreng, berkuah banyak, atau berkuah sedikit...tapi ga tau juga kalo di daerah asalnya), setelah kunjungan sebelumnya pesan yang mie cumi+udang...hehehe, penghematan lah. 'Pedas ya, Bang' kataku pada juru masaknya. Ga terlalu lama, datanglahh pesananku, Mie Aceh Special telur "Goreng Version". Sluurp....bayangkan saja bunyi yang kita keluarkan saat memakan Ind*mie atau mie instan lain. 'Hmmm...kok ga pedes ya...?'batinku. Agak mengecewakan juga, padahal aku mengahrapkan pada kunjungan kedua ini mie yang kusantap bisa lebih pedas dari yang pertama. Tak apalah, cukup seporsi ini mengobati kerinduanku atas kenangan di Medan dulu.
Untuk roti cane, rasanya boleh dibilang mirip dengan martabak Bangka yang biasa kita temui di kaki lima, hanya saja tampilan awalnya agak mirip kulit lumpia (^_^)v. Dengan balutan susu dan keju, roti cane yang kukira akan memberiku suatu sensai yang baru dalam memakan roti, ternyata hanya memberiku kesan seperti makanan kebanyakan. Bukan, bukannya rasa rotinya tidak enak. Hanya saja, aku mengharapkan sebuah keunikan rasa dari roti cane.
Overall, Mie Acehnya patut dicoba, karena dari segi rasa jauh melebihi Mie Aceh yang pernah aku makan pada saat ada acara 1st Organda Fair di Taman CD dulu. Jadi, ga ada salahnya buat STANner's mencoba pengalaman baru dalam wisata kuliner selama kuliah di kampus tercinta ini. Sisihkan sedikit uang jajan Insya Allah sudah cukup untuk bisa merasakan kuliner unik dari Bumi Serambi Mekkah ini.
Selamat mencoba...v(^_^)v


mantap........
BalasHapus