Kamis, 28 Januari 2010

Mie Aceh, tak perlu ke Aceh untuk menikmatinya (^_^)

Sesuai janji, kuliner yang ditampilkan dalam tulisan kedua ini adalah Mie Aceh & Roti Cane.Sepasang kuliner khas dari "Bumi Serambi Mekkah", Aceh.



Sedikit mengenai asal-usul perkenalanku dengan Mie Aceh. Dulu aku pernah Dinas Luar (DL) di Medan untuk training & instalasi pragram SIDJP di KPP Madya Medan. Bersama dengan beberapa orang teman, aku kost selama 10 hari di dekat Kantor Bulog. Kebiasaan pulang malam menyebabkan kami sedikit kesulitan mencari makan malam dan yang ada di sekitar situ hanya beberapa warung, salah satunya yang menjual Mie Aceh. Warung yang menurutku cara menghitungnya aneh. Awalnya kami berlima makan menghabiskan dana Rp 48.000, tapi saat kami hanya tinggal berempat, total yang harus dibayar  adalah Rp 42.000. Sampai sekarrang aku ga mudheng logika matematika mana yang dipakai ma tu warung....

Ok, cukup dengan pengantarnya.....Langsung saja ke topik bahasan...
Lokasi Kampoeng Aceh cafe (tempat Mie Aceh yang akan dibahas) ada di Jalan Ceger, tepatnya di sebelah Cheger Motor (Ahass H*nda), berseberangan dengan Ahad Mart. Buat mahasiswa STAN yang pengin merasakan Mie Aceh, datang langsung aja. Yang punya cafe orangnya ramah kok, dan dari wajahnya, kelihatannya asli Aceh (ga sempet kenalan...ga pede soalnya).

Aku pesan mie special telur "goreng version" (perlu diketahui, Mie Aceh dapat disajikan dengan beberapa cara, diantaranya goreng, berkuah banyak, atau berkuah sedikit...tapi ga tau juga kalo di daerah asalnya), setelah kunjungan sebelumnya pesan yang mie cumi+udang...hehehe, penghematan lah. 'Pedas ya, Bang' kataku pada juru masaknya. Ga terlalu lama, datanglahh pesananku, Mie Aceh Special telur "Goreng Version". Sluurp....bayangkan saja bunyi yang kita keluarkan saat memakan Ind*mie atau mie instan lain. 'Hmmm...kok ga pedes ya...?'batinku. Agak mengecewakan juga, padahal aku mengahrapkan pada kunjungan kedua ini mie yang kusantap bisa lebih pedas dari yang pertama. Tak apalah, cukup seporsi ini mengobati kerinduanku atas kenangan di Medan dulu.



Untuk roti cane, rasanya boleh dibilang mirip dengan martabak Bangka yang biasa kita temui di kaki lima, hanya saja tampilan awalnya agak mirip kulit lumpia (^_^)v. Dengan balutan susu dan keju, roti cane yang kukira akan memberiku suatu sensai yang baru dalam memakan roti, ternyata hanya memberiku kesan seperti makanan kebanyakan. Bukan, bukannya rasa rotinya tidak enak. Hanya saja, aku mengharapkan sebuah keunikan rasa dari roti cane.

Overall, Mie Acehnya patut dicoba, karena dari segi rasa jauh melebihi Mie Aceh yang pernah aku makan pada saat ada acara 1st Organda Fair di Taman CD dulu. Jadi, ga ada salahnya buat STANner's mencoba pengalaman baru dalam wisata kuliner selama kuliah di kampus tercinta ini. Sisihkan sedikit uang jajan Insya Allah sudah cukup untuk bisa merasakan kuliner unik dari Bumi Serambi Mekkah ini.

Selamat mencoba...v(^_^)v

Senin, 25 Januari 2010

Wisata Kuliner < Part 1 >

Hohoho....kalo kita bicara tentang kuliner, emang ga bakal ada matinya, apalagi buat manusia-manusia perantauan seperti diriku ini...hehehe. Bukan kali ini saja kebosanan makan di lingkungan warung-warung sekitar kampus melanda. Mungkin emang sduah waktunya bagiku untuk menikah...hahaha. Santai lah, itu bisa dipikirkan lagi nanti. Karena  bagaimanapun, perutku tidak bisa menunggu sampai datangnya bidadari yang memasakkan makanan berbumbu cinta untukku.

Ok, untung dunia tidak selebar daun kelor, jadi bosan dengan warung Ceu Ikin, masih ada warung-warung lain yang bisa jadi pilihan. Trus, gimana dunk kalo warung-warung itu juga menunya ga jauh beda, atau mungkin beda harganya gila-gilaan kek di Warung Semarang yang semena-mena dalam menetapkan harga ?

Yah, apa boleh buat, kalo sudah seperti ini keadaannya, aku memang harus berkorban sedikit lebih banyak dan memanjakan lidahku. Berhubung harga makanan di Bintaro Plaza dan sekitarnya mahal dengan rasa yang standar, alternatif lain perlu dicari. Hasil ngobrol dengan Eko ( nice advice Ko :) ), jadilah aku tertarik mencoba untuk mencari Nasi Kucing di dekat pertigaan Pasar. Naik motor malam-malam sendirian berbalut jaket hijauku yang setia, ditemani angin malam yang dingin menusuk, sampai tiba akhirnya kuberhasil menemukan tempat yang berjualan Nasi Kucing itu. Sayangnya bukan berbentuk angkringan seperti di Jawa, walaupun aku tahu yang berjualan adalah orang Jawa juga.

Segera aku mengambil tempat untuk duduk di salah satu kursi panjang yang disediakan sambil mengambil satu bungkus Nasi Kucing yang sudah tertata rapi di tempatnya. Ada dua tipe yang berbeda, satu adalah nasi dengan lauk ikan teri dan yang lain dengan lauk berupa tempe kering. Ditambah dengan bermacam-macam sate yang tersaji di depanku, makin lengkap sudah pesta malam itu. Tak lupa aku juga memesan satu gelas jahe susu, seperti di masa lalu saat masih sering berkumpul dengan anak-anak APS di SMANSA (moga suatu saat bisa menikmati jaesu ma sega bandhem bareng kalian lagi fren....^_^ ).

Hmmm...sepertinya ada yang kurang...Ah, aku tahu....Tidak ada gorengan di meja. Mungkin penjualnya menghindari resiko berjualan gorengan yang bisa saja kurang peminat. tak apalah, mari kita makan...itadakimasu....nyam..nyam....Sebungkus nasi pun tandas, ambil satu lagi, tambah sate usus dua potong, tambah lagi sate kulit.....

Allhamdulillah, untuk semua pesta kecil itu, hanya perlu merogoh kantong sebesar Rp 14.500. 00. Sebuah harga yang tergolong murah untuk lingkungan Jakarta dan sekitarnya. Sayang ga ada foto yang bisa dilampirkan, jadi maaf untuk yang sudah membayangkan, kalian cukup ngiler di khayalan kalian saja ya..hehehe...

Next post : Mie Aceh & Roti Cane