Hohoho....kalo kita bicara tentang kuliner, emang ga bakal ada matinya, apalagi buat manusia-manusia perantauan seperti diriku ini...hehehe. Bukan kali ini saja kebosanan makan di lingkungan warung-warung sekitar kampus melanda. Mungkin emang sduah waktunya bagiku untuk menikah...hahaha. Santai lah, itu bisa dipikirkan lagi nanti. Karena bagaimanapun, perutku tidak bisa menunggu sampai datangnya bidadari yang memasakkan makanan berbumbu cinta untukku.
Ok, untung dunia tidak selebar daun kelor, jadi bosan dengan warung Ceu Ikin, masih ada warung-warung lain yang bisa jadi pilihan. Trus, gimana dunk kalo warung-warung itu juga menunya ga jauh beda, atau mungkin beda harganya gila-gilaan kek di Warung Semarang yang semena-mena dalam menetapkan harga ?
Yah, apa boleh buat, kalo sudah seperti ini keadaannya, aku memang harus berkorban sedikit lebih banyak dan memanjakan lidahku. Berhubung harga makanan di Bintaro Plaza dan sekitarnya mahal dengan rasa yang standar, alternatif lain perlu dicari. Hasil ngobrol dengan Eko ( nice advice Ko :) ), jadilah aku tertarik mencoba untuk mencari Nasi Kucing di dekat pertigaan Pasar. Naik motor malam-malam sendirian berbalut jaket hijauku yang setia, ditemani angin malam yang dingin menusuk, sampai tiba akhirnya kuberhasil menemukan tempat yang berjualan Nasi Kucing itu. Sayangnya bukan berbentuk angkringan seperti di Jawa, walaupun aku tahu yang berjualan adalah orang Jawa juga.
Segera aku mengambil tempat untuk duduk di salah satu kursi panjang yang disediakan sambil mengambil satu bungkus Nasi Kucing yang sudah tertata rapi di tempatnya. Ada dua tipe yang berbeda, satu adalah nasi dengan lauk ikan teri dan yang lain dengan lauk berupa tempe kering. Ditambah dengan bermacam-macam sate yang tersaji di depanku, makin lengkap sudah pesta malam itu. Tak lupa aku juga memesan satu gelas jahe susu, seperti di masa lalu saat masih sering berkumpul dengan anak-anak APS di SMANSA (moga suatu saat bisa menikmati jaesu ma sega bandhem bareng kalian lagi fren....^_^ ).
Hmmm...sepertinya ada yang kurang...Ah, aku tahu....Tidak ada gorengan di meja. Mungkin penjualnya menghindari resiko berjualan gorengan yang bisa saja kurang peminat. tak apalah, mari kita makan...itadakimasu....nyam..nyam....Sebungkus nasi pun tandas, ambil satu lagi, tambah sate usus dua potong, tambah lagi sate kulit.....
Allhamdulillah, untuk semua pesta kecil itu, hanya perlu merogoh kantong sebesar Rp 14.500. 00. Sebuah harga yang tergolong murah untuk lingkungan Jakarta dan sekitarnya. Sayang ga ada foto yang bisa dilampirkan, jadi maaf untuk yang sudah membayangkan, kalian cukup ngiler di khayalan kalian saja ya..hehehe...
Next post : Mie Aceh & Roti Cane
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komen dimari gan...:D