Kamis, 31 Desember 2009

Nesclassic Float & Teh Tarik Float

Ampun deh...kuliner lagi.....


Setelah kemarin setengah sukses (dan berarti juga setengah gagal) dengan teh tarik with ....(lupa namanya), kali ini lanjut lagi dengan Nesclassic Float  ma Teh Tarik Float with Blueberry.

Yang pertama, Nesclassic Float . Minuman sederhana berbahan dasar kopi instan Nescafe yang ditambah gula pasir secukupnya, ditambah dengan es batu dan diberi es krim diatasnya. Tadinya gula pasir akan diganti dengan madu, tapi ternyata hasilnya malah jadi agak aneh. Es krim yang dipakai sebagai Float pun hanya P*ndan Magic Ice Cream, yang sayangnya kurang lembut untuk dijadikan float. Sepertinya lain kali es krimnya mesti ditambah susu atau krim pada saat pengolahannya sehingga hasil akhirnya lebih lembut dan lebih cocok dijadikan float. Selain itu, es krim yang terlalu 'keras' juga menyebabkan es krim tidak bisa menyatu dengan kopi. Akibatnya, setiap rasa berdiri sendiri dengan ketidakmantapan....:hammer:

Yang kedua, Teh Tarik Float with Blueberry. Yah, hanya teh tarik biasa ditambah es krim vanilla yang dicampur dengan selai blueberry. Selai blueberry disini tidak memberikan tambahan rasa apapun, melainkan hanya sebatas aroma pada es krim.

Pada intinya, liburan kali ini diwarnai dengan bermacam-macam kegagalan dari ide kulinerku. Mulai dari keracunan jamur yang menyebabkan diare, sampai teh tarik campur jeruk nipis yang membuat partikel susu di teh tarik menjadi pecah. Semoga liburan berikutnya ideku tidak macet dan buntu lagi....

Senin, 21 Desember 2009

Teh Tarik Sarang Burung


Kuliner, sesuatu yang tidak bisa kita lepaskan dari kehidupan kita. Beraneka ragam makanan dan minuman yang ada di dunia ini, semua ada untuk umat manusia. Sampai-sampai orang diberi pilihan : 'makan untuk hidup atau hidup untuk makan'. Istilah kuliner sendiri pun sudah begitu mendunia, bahkan orang Jawa sudah mencantumkannya dalam pepatah : 'witing tresno jalaran soko kuliner' (jatuh cinta karena kuliner...hehehe).

Tulisan kali ini tidak membahas mengenai jalan-jalan alias wisata kuliner, karena maaf saja bin sayang sekali, aku bukan pahlawan kuliner seperti Pak Bondan. Dan semoga saja tulisan ini bisa menjadi awal dari tulisan-tulisan khusus mengenai kuliner di blogku yang sederhana ini.

Berawal dari kebingunganku untuk mengisi waktu liburanku dan ide-ide yang selama ini bermunculan di kepalaku, maka sudah menjadi kebiasaan bahwa setiap aku pulang kampung dalam jangka waktu yang cukup lama, aku akan mewujudkan apa yang kusebut dengan 'imajinasi'. Berhubung makan adalah salah satu hobiku (walau makan-makan di luar bukanlah hal yang aku sukai), ide-ide senantiasa bermucnulan di otakku. Mendesakku untuk segera mewujudkan mereka menjadi kenyataan tiga dimensi. Beruntung aku memiliki Mama yang sabar dalam mendengarkan semua ideku dan membantuku mewujudkannya menjadi nyata.

Walau tidak semua dari ide-ide itu menjadi hasil yang memuaskan, tapi aku tidak pernah berhenti untuk berimajinasi. Daya khayal menjadi senjata utamaku dalam melahirkan ide-ide yang 'tidak biasa'. Nasi goreng dengan tahu telur, Spaghetti yang dimasak dengan sambal ekstra pedas dan beberapa contoh masakan lain memang menjadi bukti nyata kegagalan ideku. Namun, Indomie Pasta, beberapa minuman dan masakan lain yang bahkan aku tak ingat lagi, sudah menjadi bukti nyata bawa ideku juga bisa menjadi nikmat. Yah, walaupun dari awal sudah membuat orang-orang yang melihatnya ilfeel karena bahan-bahan yang aku pakai biasanya terlalu 'aneh' bagi kebanyakan orang.Hal itu juga yang membuat enak atau tidaknya hasil imajinasiku hanta bisa dinikmati oleh sedikit orang yang kadang berselera sama anehnya.

Setelah beberapa hari yang lalu gagal dalam mencipta dan mengakibatkan aku diare (memalukan ^_^), kemarin aku membuat lagi minuman yang masih menjadi perjudian dalam hal rasa yaitu "Teh Tarik Sarang Burung". Keren ya namanya? Bahannya sederhana kok. Hanya teh tarik instan, ditambah agar-agar yang diserut, ditambah potongan-potingan buah pepaya dan mangga kemudian ditambah lagi dengan sedikit nata de coco dan disajikan dengan es batu. Berikut ini adalah fotonya :




Dari segi tampilan memang kelihatan kurang menarik. Dan kuakui, ide menggunakan agar-agar dan buah pepaya sebagai pelengkap teh tarik tidaklah terlalu bagus. Namun ide menggunakan buah mangga sebagai pelengkap, adalah suatu hal yang menurutku luar biasa. Rasa manis yang tidak terlalu tajam dari teh tarik bercampur dengan rasa asam yang segar dari buah mangga. Mantap !!! Mungkin memang teh tarik itu lebih cocok apabila dijadikan sebagai salah satu menu 'bubble tea'. Teh tarik bercampur dengan nata de coco rasa mangga...hmmm....bolehlah dicoba lain kali.

Liburan masih cukup panjang dan imajinasiku masih bisa sedikit diperas ditengah kebuntuan ini. Tidak sabar untuk segera menuju proyek berikutnya : Dark Classic Float with Blueberry dan Teh Tarik Float....Tunggu tanggal mainnya.

Minggu, 20 Desember 2009

Teruntuk Istriku Kelak

Ribuan hari aku menunggunya
senantiasa ku berdoa kepada Allah untuk menguatkan diriku
Yang lemah
Penuh harap menanti kehadirannya di sisiku

Saat aku menatap malam
Langit dan bintang menyiratkan kerinduan
Angin menyapa
menggelitik rindu dalam kalbu

Semoga Allah menjaganya di setiap detak kehidupannya
Menuntunnya di setiap langkah-langkahnya
Menguatkannya di saat dia lelah
Mendampinginya di saat-saat kesendiriannya

Dia, wanita sholihah dari sisi Allah
Seorang bidadari yang Allah percayakan padaku
Bidadari yang menemaniku menjalani hidup
Wanita mulia yang senantiasa menjaga kehormatan diri dan keluarganya

Bidadari itu
Seorang wanita yang ingin selalu kulihat senyumnya
Yang tak ingin kubuat dia bersedih
Yang tak ingin kudengar dia menangis

Bidadari itu
Dia hanya seorang wanita biasa
Tapi dia istimewa
Amat sangat istimewa

Bidadari itu
Seorang wanita perkasa
Yang tak kenal lelah berjuang di jalan-Nya
Yang tetap teguh memegang agamanya

Saat ku pulang, dia menyambutku dengan senyuman yang terindah
Wajahnya yang lelah tak mengurangi indah dan sejuknya senyumnya
Dia bercerita tentang anak-anak kami
Impian mereka, tangisan mereka, canda dan tawa mereka

Kadang dia mengeluh karena beratnya beban di pundaknya
Tapi tak pernah dia menghentikan langkahnya
Dia tetap tegak berjalan
Demi satu tujuan mulia dalam hidupnya

Kadang ku menyakitinya
Kadang ku bersikap tak pantas padanya
Tapi dia tetap dengan kesabarannya
Tetap tegar dengan senyum tersungging di bibirnya

Duhai bidadari yang sholihah
Terima kasih engkau mau memandang pada sang Pencinta
Yang beharap melihat senyuman di wajahmu
Yang senantiasa berdoa agar bisa membahagiakanmu

Kata-kata ini sangat tidak cukup menggambarkan rasa syukurku
Alhamdulillah, Allah sudah mempertemukan diriku denganmu
Walau mungkin ku bukan yang terbaik untukmu
Walau aku tak pantas bersanding denganmu

Dunia ini menjadi tak berharga saat Allah menyandingkan Engkau di hati
Dahaga cinta terpuaskan dengan siraman kasihmu
Kesepian tergerus dengan kehangatan jiwamu

Tetaplah di sampingku, wahai kekasih hati
Jiwa ini sepi tanpamu
Tetaplah di sisi, wahai permata jiwa
Bersama kita jalani kehidupan fana
Saling menguatkan, saling mengingatkan
Hingga saat Allah memisahkan raga kita
semoga Allah mempertemukan lagi jiwa kita di Surga-Nya

Biduran

Biduran, atau yang sebagian orang menyebutnya Kaligata, sebenarnya adalah kasus yang dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah "urtikaria". Berhubung sudah terlalu banyak blog maupun situs yang membahasnya, jadi aku rasa tidak perlu dibahas terlalu dalam disini. Ini ada sedikit link dari orang-orang yang sudah membahas urtikaria di dalam blog mereka. Let's check this out :

http://cakmoki86.wordpress.com/2009/02/14/urtikaria-atau-biduran/

http://www.wartamedika.com/2009/11/biduran-kaligata-atau-urtikaria.html

Dalam hal ini, aku hanya ingin menceritakan pengalaman pribadi yang sudah menjalani kehidupan sebagai urtikarian (anggap saja ini sebutan bagi penderita urtikaria :P ) selama 12 tahun sejak tahun 1997, tepatnya 31 Januari 1997. Hehe, bahkan sampai masih ingat TKP-nya (Tanggal Kejadian Pertama). Namanya juga suatu kejadian yang berpengaruh pada kehidupanku sampai sekarang, jadi pelu diingat duonk.

Berbagai upaya penyembuhan sudah kujalani, mulai dari yang primitif (garuk-garuk), tradisional (jamu, obat Cina dsb) dan pengobatan modern. Namun sampai saat ini semuanya masih belum bisa memberikan kesembuhan secara permanen. Pernah periksa ke dokter kulit, dan dokter mendiagnosis bahwa itu ada kemungkinan disebabkan oleh zat pengawet dari mie instan yang kumakan selama ini.

Apa?? Begitulah jeritan hatiku saat itu. Terbayang sudah mie instan yang menjadi temanku sejak kecil dikala diriku butuh cemilan, mie instan yang menemaniku disaat Mama tidak masak atau saat aku tidak mau makan, mie instan yang sudah sejak umurku 3 tahun menjadi makanan idolaku.....Betapa sedihnya kalau aku harus mengakhiri semua kebersamaan itu...hiks...Yah, apa boleh buat, demi kesembuhan, aku terpaksa meninggalkan mie instanku tersayang dan kembali pada nasi dan teman-temannya.

Ternyata, walaupun aku sudah mengurangi konsumsi mie instan, biduranku masih sering kambuh. Atas saran seorang dokter, kucoba juga mengurangi konsumsi telur, dan ini sedikit memberikan hasil yang positif selama masa kuliah dulu. Apalagi hal itu mendukung program penghematan dalam makan karena keterbatasan bujet bulanan.

Hari berganti, bulan berlalu dan tahun pun berubah. Sampai tiba saatnya pertengahan musim kemarau di sekitar bulan Agustus. Alergi yang kukira sudah hampir sembuh ini, tiba-tiba kembali menjadi momok yang menghantui malam-malamku. Sering aku terbangun dalam kondisi badan yang sudah bengkak disana-sini ( bayangkan saja Joko yang gemuk ditambah bengkak karena bentol-bentol di banyak tempat, asal jangan membayangkan gajah saja ya). Haha, santai bung, sekarang saya sudah punya penangkalnya, ga perlu nyari lagi. Yup, sejak mengenal obat bernama Inc*dal, aku jadi tidak terlalu khawatir lagi apabila alergiku ini kambuh. Paling tidak ada obat yang bisa menghilangkan efek gatal dan bentol-bentol kemerahan itu dalam waktu yang cukup singkat.

Walau kadang efek obat itu tidak bisa mengatasi bentol-bentol di beberapa tempat, misalnya di bibir apabila bengkaknya sudah parah, tapi paling tidak bisa mengurangi agar tidak terlalu terlihat oleh orang banyak. Sampai sekarang, biduran ini masih sering kambuh, namun aku yakin, suatu hari semua ini akan berakhir dan alergiku ini akan sembuh. Hanya Allah yang tahu kapan waktu itu akan tiba, dan semoga Allah menguatkan dan melatih kesabaranku dengan cobaan ini.

"Tiada hujan yang tak reda, tiada badai yang tak berlalu dan tiada kesusahan yang tak berakhir"

Sabtu, 19 Desember 2009

Keluargaku tercinta....^_^

Keluarga, satu anugerah yang diberikan Allah bagi setiap insan (yah, walau dalam beberapa kasus orang lain, keluarga malah menjadi perusak), termasuk diriku. Walau keluargaku adalah keluarga sederhana, bukan keluarga yang mapan dari segi ekonomi, tapi alhamdulillah disana terdapat cinta yang melimpah. Keluarga yang bisa membuatku rindu untuk pulang karena disana aku menemukan "rumah" yang aku butuhkan . Keluarga yang senantiasa mendoakanku disaat aku jauh dan memanjakanku di saat aku dekat :P.

Hmm, keluargaku beranggotakan enam orang, yaitu Bapak, Mama, Mbak Cici, Mbak Uni, Aku dan Wuri. Cukup besar juga untuk ukuran keluarga zaman sekarang yang rata-rata hanya beranggotakan 4 atau 5 orang. Tapi tak apalah, toh yang umum bukan berarti benar (dan memang jumlah anak tidak ada hubungannya dengan benar atau salah). Sekarang di rumahku hanya ada Bapak, Mama dan Wuri saja. Mbak Cici dan Mbak Uni alhamdulillah sudah menikah dan ikut suami ke perantauan sana (masih di pulau Jawa juga kok :P).

Sampai sekarang, kami masih menepati rumah dari Mbah Kakung yang dpercayakan pada kami untuk merawat dan menempatinya sejak Mbah Kakung meninggal dunia. Rumah yang Bapak bangun terletak persis di belakang rumah Mbah ini, tapi saat ini sedang dikontrakkan pada orang lain.

Rumah Mbah yang sederhana inilah yang mengukir kenangan-kenangan dari masa kecilku sampai dengan saat ini. Walau sederhana, cukuplah rumah ini menjadi tempat berteduh kami sekeluarga dari panas dan hujan di luar sana. Pokoknya yang penting ga beratapkan langit dan beralaskan tanah :D. Rumah ini beserta seluruh isinya membuatku rindu untuk pulang dari perantauanku ( Jakarta ) setiap musim liburan. Ingin ku melepaskan diri dari kehidupan Jakarta yang penat, sepi (maklumlah masih jomblo), dan individualis di luar sana. Memang apa istimewanya rumah ini bagi seorang J*k* ? Penghuninya yang membuatku merasa istimewa, karena keluarga atau orang yang bisa menjadi keluarga tidak mudah ditemukan di luar sana.

Dimulai dari Bapak. Bapak adalah seorang pensiunan PNS golongan 2C. Dulu beliau kerja di Baturaden, di BPPT Sapi Perah. Bapakku bukan seorang dengan pendidikan tinggi seperti kebanyakan orang. Beliau hanya mempunyai ijazah SLTP karena dulu sekolah beliau di STM Bangunan tidak belaiu tamatkan. Walau begitu, kecerdasan beliau tidak kalah dari orang lain, terutama dalam masalah hitungan. Sekarang beliau mengisi hari-harinya dengan memancing, beternak ayam di rumah dan sesekali membantu Mam dalam pekerjaan rumah sehari-hari.

Mama, seorang ibu yang senantiasa berusaha ditengah kesederhanaan. Seorang ibu yang selalu membuatku yakin bahwa aku akan mendapat cukup kasih sayang saat aku pulang ke rumah. Seorang ibu yang mengajariku untuk selalu berhati-hati dengan barang milik orang lain. Seorang ibu yang selalu mengingatkanku untuuk tidak meminjam barang orang lain, karena apabila barang itu rusak, Bapak dan Mama belum tentu bisa menggantinya. Seorang ibu yang darinya aku banyak mewarisi kepribadian. Seorang ibu yang kadang terlalu khawatir terhadap hal-hal kecil. Pokoknya, aku merasa diriku hampir menjadi cermin dari kepribadian ibuku.

Mbak Cici, seorang kakak yang bertanggung jawab terhadap adik-adiknya. Dia jugalah yang membiayai kuliahku di Prodip I STAN dulu karena Bapak sudah pensiun saat aku masuk kuliah. Seorang kakak yang kadang berlebihan dalam beberapa hal, namun kadang kurang perhatian pada hal-hal lainnya. Kadang dia tertutup dari membicarakan masalah-masalahnya karena takut menambah beban pikiran Bapak dan Mama. Yang sabar ya Mbak....

Mbak Uni, anak paling keras dalam keluarga. Pokoknya paling berani dan paling ngeyel. Apa boleh buat, selama ini pengalaman hidup dan pergaulan membentuknya menjadi seperti itu. Apalagi mengingat keadaan keluarga kami yang kurang mampu, jadi wajar kalau di luar sana banyak yang merendahkan keluarga kami (bukan opini karena ini berdasarkan bukti). Karena ngeyel-nya itu, Mbak Uni kadang jadi seperti alien di rumah....:P .

Aku...? cukup lihat dan analisis isi tulisanku saja ya....:D

Wuri, anak bungsu yang tidak menjadi anak kesayangan (anak kesayangannya kan aku :P). Wuri anak dengan kemampuan komunikasi yang paling baik selain Mbak Cici. Teman-temannya berasal dari bermacam-macam golongan, mulai dari pengamen, pedagang asongan, tukang parkir sampai anak-anak gaul yang menjadi teman kuliahnya. Luar biasa memang apabila hal itu dibandingkan dengan diriku yang kuper dan agak minder. Biarpun dari segi kemampuan IQ, dia yang paling rendah, tapi untuk masalah pergaulan, dia nomor satu. Keberaniannya juga ga perlu diragukan. Cowok yang macem-macem aja berani dilawan. Gelar preman sepertinya sudah cukup mewakili dia yang apa adanya (walau kadang nangis juga, namanya juga cewek).

Keluargaku mungkin biasa saja. Ditambah dengan kehidupan yang sederhana juga, keluargaku tak ubahnya keluarga kebanyakan. Alhamdulillah, sampai saat ini kami sekeluarga masih diberi kesempatan untuk berkumpul walau hanya saat-saat tertentu saja. Semoga Allah memberkahi keluarga kami dengan kebaikan, menuntun kami dalam petunjuk-Nya, dan senantiasa memelihara kami dari keburukan...Amien

Salam Perkenalan

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Salam perkenalan untuk dunia blogger
Hari ini sebuah tulisan akan mengawali segalanya, sebuah tulisan yang menjadi postingan pertama di blog ini. Sebuah salam perkenalan sederhana dari seorang anak manusia yang hendak menyapa dunia baru yang masih asing baginya.

Hari ini, dimulai dari sebuah kota tempat diriku dilahirkan, kuketikkan kata demi kata di halaman baru ini. Bukan sebuah tulisan istimewa memang, karena ini masih berupa awal dari semua kisah yang akan tertuang dalam blog ini. Santai sajalah, hidup tidak harus selalu diisi dengan keseriusan. Sekarang saatnya bagi diri ini untuk mencoba membuka diri di dunia maya, walau sedikit demi sedikit ;).

Karena isi halaman ini dibatasi oleh judul, jadi cukuplah salam perkenalan ini sampai disini. walau jauh dari sempurna, tapi tak ada salahnya mencoba.

Sambut hari baru dengan pengalaman baru dan nikmatilah....

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh