Biduran, atau yang sebagian orang menyebutnya Kaligata, sebenarnya adalah kasus yang dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah "urtikaria". Berhubung sudah terlalu banyak blog maupun situs yang membahasnya, jadi aku rasa tidak perlu dibahas terlalu dalam disini. Ini ada sedikit link dari orang-orang yang sudah membahas urtikaria di dalam blog mereka. Let's check this out :
http://cakmoki86.wordpress.com/2009/02/14/urtikaria-atau-biduran/
http://www.wartamedika.com/2009/11/biduran-kaligata-atau-urtikaria.html
Dalam hal ini, aku hanya ingin menceritakan pengalaman pribadi yang sudah menjalani kehidupan sebagai urtikarian (anggap saja ini sebutan bagi penderita urtikaria :P ) selama 12 tahun sejak tahun 1997, tepatnya 31 Januari 1997. Hehe, bahkan sampai masih ingat TKP-nya (Tanggal Kejadian Pertama). Namanya juga suatu kejadian yang berpengaruh pada kehidupanku sampai sekarang, jadi pelu diingat duonk.
Berbagai upaya penyembuhan sudah kujalani, mulai dari yang primitif (garuk-garuk), tradisional (jamu, obat Cina dsb) dan pengobatan modern. Namun sampai saat ini semuanya masih belum bisa memberikan kesembuhan secara permanen. Pernah periksa ke dokter kulit, dan dokter mendiagnosis bahwa itu ada kemungkinan disebabkan oleh zat pengawet dari mie instan yang kumakan selama ini.
Apa?? Begitulah jeritan hatiku saat itu. Terbayang sudah mie instan yang menjadi temanku sejak kecil dikala diriku butuh cemilan, mie instan yang menemaniku disaat Mama tidak masak atau saat aku tidak mau makan, mie instan yang sudah sejak umurku 3 tahun menjadi makanan idolaku.....Betapa sedihnya kalau aku harus mengakhiri semua kebersamaan itu...hiks...Yah, apa boleh buat, demi kesembuhan, aku terpaksa meninggalkan mie instanku tersayang dan kembali pada nasi dan teman-temannya.
Ternyata, walaupun aku sudah mengurangi konsumsi mie instan, biduranku masih sering kambuh. Atas saran seorang dokter, kucoba juga mengurangi konsumsi telur, dan ini sedikit memberikan hasil yang positif selama masa kuliah dulu. Apalagi hal itu mendukung program penghematan dalam makan karena keterbatasan bujet bulanan.
Hari berganti, bulan berlalu dan tahun pun berubah. Sampai tiba saatnya pertengahan musim kemarau di sekitar bulan Agustus. Alergi yang kukira sudah hampir sembuh ini, tiba-tiba kembali menjadi momok yang menghantui malam-malamku. Sering aku terbangun dalam kondisi badan yang sudah bengkak disana-sini ( bayangkan saja Joko yang gemuk ditambah bengkak karena bentol-bentol di banyak tempat, asal jangan membayangkan gajah saja ya). Haha, santai bung, sekarang saya sudah punya penangkalnya, ga perlu nyari lagi. Yup, sejak mengenal obat bernama Inc*dal, aku jadi tidak terlalu khawatir lagi apabila alergiku ini kambuh. Paling tidak ada obat yang bisa menghilangkan efek gatal dan bentol-bentol kemerahan itu dalam waktu yang cukup singkat.
Walau kadang efek obat itu tidak bisa mengatasi bentol-bentol di beberapa tempat, misalnya di bibir apabila bengkaknya sudah parah, tapi paling tidak bisa mengurangi agar tidak terlalu terlihat oleh orang banyak. Sampai sekarang, biduran ini masih sering kambuh, namun aku yakin, suatu hari semua ini akan berakhir dan alergiku ini akan sembuh. Hanya Allah yang tahu kapan waktu itu akan tiba, dan semoga Allah menguatkan dan melatih kesabaranku dengan cobaan ini.
"Tiada hujan yang tak reda, tiada badai yang tak berlalu dan tiada kesusahan yang tak berakhir"
http://cakmoki86.wordpress.com/2009/02/14/urtikaria-atau-biduran/
http://www.wartamedika.com/2009/11/biduran-kaligata-atau-urtikaria.html
Dalam hal ini, aku hanya ingin menceritakan pengalaman pribadi yang sudah menjalani kehidupan sebagai urtikarian (anggap saja ini sebutan bagi penderita urtikaria :P ) selama 12 tahun sejak tahun 1997, tepatnya 31 Januari 1997. Hehe, bahkan sampai masih ingat TKP-nya (Tanggal Kejadian Pertama). Namanya juga suatu kejadian yang berpengaruh pada kehidupanku sampai sekarang, jadi pelu diingat duonk.
Berbagai upaya penyembuhan sudah kujalani, mulai dari yang primitif (garuk-garuk), tradisional (jamu, obat Cina dsb) dan pengobatan modern. Namun sampai saat ini semuanya masih belum bisa memberikan kesembuhan secara permanen. Pernah periksa ke dokter kulit, dan dokter mendiagnosis bahwa itu ada kemungkinan disebabkan oleh zat pengawet dari mie instan yang kumakan selama ini.
Apa?? Begitulah jeritan hatiku saat itu. Terbayang sudah mie instan yang menjadi temanku sejak kecil dikala diriku butuh cemilan, mie instan yang menemaniku disaat Mama tidak masak atau saat aku tidak mau makan, mie instan yang sudah sejak umurku 3 tahun menjadi makanan idolaku.....Betapa sedihnya kalau aku harus mengakhiri semua kebersamaan itu...hiks...Yah, apa boleh buat, demi kesembuhan, aku terpaksa meninggalkan mie instanku tersayang dan kembali pada nasi dan teman-temannya.
Ternyata, walaupun aku sudah mengurangi konsumsi mie instan, biduranku masih sering kambuh. Atas saran seorang dokter, kucoba juga mengurangi konsumsi telur, dan ini sedikit memberikan hasil yang positif selama masa kuliah dulu. Apalagi hal itu mendukung program penghematan dalam makan karena keterbatasan bujet bulanan.
Hari berganti, bulan berlalu dan tahun pun berubah. Sampai tiba saatnya pertengahan musim kemarau di sekitar bulan Agustus. Alergi yang kukira sudah hampir sembuh ini, tiba-tiba kembali menjadi momok yang menghantui malam-malamku. Sering aku terbangun dalam kondisi badan yang sudah bengkak disana-sini ( bayangkan saja Joko yang gemuk ditambah bengkak karena bentol-bentol di banyak tempat, asal jangan membayangkan gajah saja ya). Haha, santai bung, sekarang saya sudah punya penangkalnya, ga perlu nyari lagi. Yup, sejak mengenal obat bernama Inc*dal, aku jadi tidak terlalu khawatir lagi apabila alergiku ini kambuh. Paling tidak ada obat yang bisa menghilangkan efek gatal dan bentol-bentol kemerahan itu dalam waktu yang cukup singkat.
Walau kadang efek obat itu tidak bisa mengatasi bentol-bentol di beberapa tempat, misalnya di bibir apabila bengkaknya sudah parah, tapi paling tidak bisa mengurangi agar tidak terlalu terlihat oleh orang banyak. Sampai sekarang, biduran ini masih sering kambuh, namun aku yakin, suatu hari semua ini akan berakhir dan alergiku ini akan sembuh. Hanya Allah yang tahu kapan waktu itu akan tiba, dan semoga Allah menguatkan dan melatih kesabaranku dengan cobaan ini.
"Tiada hujan yang tak reda, tiada badai yang tak berlalu dan tiada kesusahan yang tak berakhir"
Saya nggak punya bakat alergi gatal, tapi beberapa minggu setelah kelulusan SMA, tiba2 saya biduran. Temen saya ngasih obat, lupa namanya, lumayan manjur. Seingat saya, biduran kambuh satu atau dua kali setelah biduran pertama itu. Sekarang, walhamdulillah, saya nggak pernah lagi biduran, semoga tidak akan pernah lagi.
BalasHapusdah minum Incidal, tapi cuma buat meringankan pas kambuh aja....Insya Allah bakal sembuh sendiri, walau mungkin perlu waktu yang lama...:)
BalasHapus