Keluarga, satu anugerah yang diberikan Allah bagi setiap insan (yah, walau dalam beberapa kasus orang lain, keluarga malah menjadi perusak), termasuk diriku. Walau keluargaku adalah keluarga sederhana, bukan keluarga yang mapan dari segi ekonomi, tapi alhamdulillah disana terdapat cinta yang melimpah. Keluarga yang bisa membuatku rindu untuk pulang karena disana aku menemukan "rumah" yang aku butuhkan . Keluarga yang senantiasa mendoakanku disaat aku jauh dan memanjakanku di saat aku dekat :P.
Hmm, keluargaku beranggotakan enam orang, yaitu Bapak, Mama, Mbak Cici, Mbak Uni, Aku dan Wuri. Cukup besar juga untuk ukuran keluarga zaman sekarang yang rata-rata hanya beranggotakan 4 atau 5 orang. Tapi tak apalah, toh yang umum bukan berarti benar (dan memang jumlah anak tidak ada hubungannya dengan benar atau salah). Sekarang di rumahku hanya ada Bapak, Mama dan Wuri saja. Mbak Cici dan Mbak Uni alhamdulillah sudah menikah dan ikut suami ke perantauan sana (masih di pulau Jawa juga kok :P).
Sampai sekarang, kami masih menepati rumah dari Mbah Kakung yang dpercayakan pada kami untuk merawat dan menempatinya sejak Mbah Kakung meninggal dunia. Rumah yang Bapak bangun terletak persis di belakang rumah Mbah ini, tapi saat ini sedang dikontrakkan pada orang lain.
Rumah Mbah yang sederhana inilah yang mengukir kenangan-kenangan dari masa kecilku sampai dengan saat ini. Walau sederhana, cukuplah rumah ini menjadi tempat berteduh kami sekeluarga dari panas dan hujan di luar sana. Pokoknya yang penting ga beratapkan langit dan beralaskan tanah :D. Rumah ini beserta seluruh isinya membuatku rindu untuk pulang dari perantauanku ( Jakarta ) setiap musim liburan. Ingin ku melepaskan diri dari kehidupan Jakarta yang penat, sepi (maklumlah masih jomblo), dan individualis di luar sana. Memang apa istimewanya rumah ini bagi seorang J*k* ? Penghuninya yang membuatku merasa istimewa, karena keluarga atau orang yang bisa menjadi keluarga tidak mudah ditemukan di luar sana.
Dimulai dari Bapak. Bapak adalah seorang pensiunan PNS golongan 2C. Dulu beliau kerja di Baturaden, di BPPT Sapi Perah. Bapakku bukan seorang dengan pendidikan tinggi seperti kebanyakan orang. Beliau hanya mempunyai ijazah SLTP karena dulu sekolah beliau di STM Bangunan tidak belaiu tamatkan. Walau begitu, kecerdasan beliau tidak kalah dari orang lain, terutama dalam masalah hitungan. Sekarang beliau mengisi hari-harinya dengan memancing, beternak ayam di rumah dan sesekali membantu Mam dalam pekerjaan rumah sehari-hari.
Mama, seorang ibu yang senantiasa berusaha ditengah kesederhanaan. Seorang ibu yang selalu membuatku yakin bahwa aku akan mendapat cukup kasih sayang saat aku pulang ke rumah. Seorang ibu yang mengajariku untuk selalu berhati-hati dengan barang milik orang lain. Seorang ibu yang selalu mengingatkanku untuuk tidak meminjam barang orang lain, karena apabila barang itu rusak, Bapak dan Mama belum tentu bisa menggantinya. Seorang ibu yang darinya aku banyak mewarisi kepribadian. Seorang ibu yang kadang terlalu khawatir terhadap hal-hal kecil. Pokoknya, aku merasa diriku hampir menjadi cermin dari kepribadian ibuku.
Mbak Cici, seorang kakak yang bertanggung jawab terhadap adik-adiknya. Dia jugalah yang membiayai kuliahku di Prodip I STAN dulu karena Bapak sudah pensiun saat aku masuk kuliah. Seorang kakak yang kadang berlebihan dalam beberapa hal, namun kadang kurang perhatian pada hal-hal lainnya. Kadang dia tertutup dari membicarakan masalah-masalahnya karena takut menambah beban pikiran Bapak dan Mama. Yang sabar ya Mbak....
Mbak Uni, anak paling keras dalam keluarga. Pokoknya paling berani dan paling ngeyel. Apa boleh buat, selama ini pengalaman hidup dan pergaulan membentuknya menjadi seperti itu. Apalagi mengingat keadaan keluarga kami yang kurang mampu, jadi wajar kalau di luar sana banyak yang merendahkan keluarga kami (bukan opini karena ini berdasarkan bukti). Karena ngeyel-nya itu, Mbak Uni kadang jadi seperti alien di rumah....:P .
Aku...? cukup lihat dan analisis isi tulisanku saja ya....:D
Wuri, anak bungsu yang tidak menjadi anak kesayangan (anak kesayangannya kan aku :P). Wuri anak dengan kemampuan komunikasi yang paling baik selain Mbak Cici. Teman-temannya berasal dari bermacam-macam golongan, mulai dari pengamen, pedagang asongan, tukang parkir sampai anak-anak gaul yang menjadi teman kuliahnya. Luar biasa memang apabila hal itu dibandingkan dengan diriku yang kuper dan agak minder. Biarpun dari segi kemampuan IQ, dia yang paling rendah, tapi untuk masalah pergaulan, dia nomor satu. Keberaniannya juga ga perlu diragukan. Cowok yang macem-macem aja berani dilawan. Gelar preman sepertinya sudah cukup mewakili dia yang apa adanya (walau kadang nangis juga, namanya juga cewek).
Keluargaku mungkin biasa saja. Ditambah dengan kehidupan yang sederhana juga, keluargaku tak ubahnya keluarga kebanyakan. Alhamdulillah, sampai saat ini kami sekeluarga masih diberi kesempatan untuk berkumpul walau hanya saat-saat tertentu saja. Semoga Allah memberkahi keluarga kami dengan kebaikan, menuntun kami dalam petunjuk-Nya, dan senantiasa memelihara kami dari keburukan...Amien
Hmm, keluargaku beranggotakan enam orang, yaitu Bapak, Mama, Mbak Cici, Mbak Uni, Aku dan Wuri. Cukup besar juga untuk ukuran keluarga zaman sekarang yang rata-rata hanya beranggotakan 4 atau 5 orang. Tapi tak apalah, toh yang umum bukan berarti benar (dan memang jumlah anak tidak ada hubungannya dengan benar atau salah). Sekarang di rumahku hanya ada Bapak, Mama dan Wuri saja. Mbak Cici dan Mbak Uni alhamdulillah sudah menikah dan ikut suami ke perantauan sana (masih di pulau Jawa juga kok :P).
Sampai sekarang, kami masih menepati rumah dari Mbah Kakung yang dpercayakan pada kami untuk merawat dan menempatinya sejak Mbah Kakung meninggal dunia. Rumah yang Bapak bangun terletak persis di belakang rumah Mbah ini, tapi saat ini sedang dikontrakkan pada orang lain.
Rumah Mbah yang sederhana inilah yang mengukir kenangan-kenangan dari masa kecilku sampai dengan saat ini. Walau sederhana, cukuplah rumah ini menjadi tempat berteduh kami sekeluarga dari panas dan hujan di luar sana. Pokoknya yang penting ga beratapkan langit dan beralaskan tanah :D. Rumah ini beserta seluruh isinya membuatku rindu untuk pulang dari perantauanku ( Jakarta ) setiap musim liburan. Ingin ku melepaskan diri dari kehidupan Jakarta yang penat, sepi (maklumlah masih jomblo), dan individualis di luar sana. Memang apa istimewanya rumah ini bagi seorang J*k* ? Penghuninya yang membuatku merasa istimewa, karena keluarga atau orang yang bisa menjadi keluarga tidak mudah ditemukan di luar sana.
Dimulai dari Bapak. Bapak adalah seorang pensiunan PNS golongan 2C. Dulu beliau kerja di Baturaden, di BPPT Sapi Perah. Bapakku bukan seorang dengan pendidikan tinggi seperti kebanyakan orang. Beliau hanya mempunyai ijazah SLTP karena dulu sekolah beliau di STM Bangunan tidak belaiu tamatkan. Walau begitu, kecerdasan beliau tidak kalah dari orang lain, terutama dalam masalah hitungan. Sekarang beliau mengisi hari-harinya dengan memancing, beternak ayam di rumah dan sesekali membantu Mam dalam pekerjaan rumah sehari-hari.
Mama, seorang ibu yang senantiasa berusaha ditengah kesederhanaan. Seorang ibu yang selalu membuatku yakin bahwa aku akan mendapat cukup kasih sayang saat aku pulang ke rumah. Seorang ibu yang mengajariku untuk selalu berhati-hati dengan barang milik orang lain. Seorang ibu yang selalu mengingatkanku untuuk tidak meminjam barang orang lain, karena apabila barang itu rusak, Bapak dan Mama belum tentu bisa menggantinya. Seorang ibu yang darinya aku banyak mewarisi kepribadian. Seorang ibu yang kadang terlalu khawatir terhadap hal-hal kecil. Pokoknya, aku merasa diriku hampir menjadi cermin dari kepribadian ibuku.
Mbak Cici, seorang kakak yang bertanggung jawab terhadap adik-adiknya. Dia jugalah yang membiayai kuliahku di Prodip I STAN dulu karena Bapak sudah pensiun saat aku masuk kuliah. Seorang kakak yang kadang berlebihan dalam beberapa hal, namun kadang kurang perhatian pada hal-hal lainnya. Kadang dia tertutup dari membicarakan masalah-masalahnya karena takut menambah beban pikiran Bapak dan Mama. Yang sabar ya Mbak....
Mbak Uni, anak paling keras dalam keluarga. Pokoknya paling berani dan paling ngeyel. Apa boleh buat, selama ini pengalaman hidup dan pergaulan membentuknya menjadi seperti itu. Apalagi mengingat keadaan keluarga kami yang kurang mampu, jadi wajar kalau di luar sana banyak yang merendahkan keluarga kami (bukan opini karena ini berdasarkan bukti). Karena ngeyel-nya itu, Mbak Uni kadang jadi seperti alien di rumah....:P .
Aku...? cukup lihat dan analisis isi tulisanku saja ya....:D
Wuri, anak bungsu yang tidak menjadi anak kesayangan (anak kesayangannya kan aku :P). Wuri anak dengan kemampuan komunikasi yang paling baik selain Mbak Cici. Teman-temannya berasal dari bermacam-macam golongan, mulai dari pengamen, pedagang asongan, tukang parkir sampai anak-anak gaul yang menjadi teman kuliahnya. Luar biasa memang apabila hal itu dibandingkan dengan diriku yang kuper dan agak minder. Biarpun dari segi kemampuan IQ, dia yang paling rendah, tapi untuk masalah pergaulan, dia nomor satu. Keberaniannya juga ga perlu diragukan. Cowok yang macem-macem aja berani dilawan. Gelar preman sepertinya sudah cukup mewakili dia yang apa adanya (walau kadang nangis juga, namanya juga cewek).
Keluargaku mungkin biasa saja. Ditambah dengan kehidupan yang sederhana juga, keluargaku tak ubahnya keluarga kebanyakan. Alhamdulillah, sampai saat ini kami sekeluarga masih diberi kesempatan untuk berkumpul walau hanya saat-saat tertentu saja. Semoga Allah memberkahi keluarga kami dengan kebaikan, menuntun kami dalam petunjuk-Nya, dan senantiasa memelihara kami dari keburukan...Amien
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komen dimari gan...:D