Rabu, 12 Mei 2010

Sebuah cobaan dan peringatan

Kamis, 6 Mei 2010
Hari itu, aku dan temanku, Andi melakukan perjalanan ke Bogor dengan menggunakan motor Andi, Bajaj Pulsar 180 cc. Agenda hari itu adalah mengambil STNK motor yang baru beberapa pekan dibelinya itu dari seseorang di Kaskus. Kuiyakan ajakannya sehari sebelumnya karena saat itu aku sedang ingin refreshing sebelum ujian dan aku agak kasihan padanya kalau dia pergi sendirian ke Bogor, pasti dia kesepian :-P

Mungkin dia tidak enak, karena mengajakku melakukan perjalanan, tapi hanya untuk menemaninya mengambil STNK sehingga dia juga mengajakku untuk shalat dhuhur di Puncak dan kemudian berwisata kuliner sepulang dari sana. Tak ada yang menyangk, bahwa hari itu Allah akan memberi cobaan pada kami berdua.

Setelah urusan STNK beres, kami pun melanjutkan agenda kami untuk jalan-jalan di Puncak. Sempat aku memintanya untuk mencari ATM BRI karena aku khawatir uang di dompetku tak cukup untuk sekedar membayari makan siangku nanti. Setelah beberapa ATM ternyata tidak bisa membantu kami, akhirnya kami menemukan ATM di RSP dr. M. Gunawan di daerah Cisarua. Setelah mengambil uang secukupnya, kami melanjutkan lagi perjalanan kami ke atas. Puncaknya Puncak, itulah pikirku saat temanku itu membawaku makin naik ke bagian Puncak yang belum pernah kulewati sebelumnya.

Untung takdapat diraih dan malang tak dapat ditolak, ternyata Puncak yang indah itu, kebun-kebun teh yang hijau menjadi saksi bisu saat-saat Allah mengingatkan kami akan Kekuasaan dan Kebesaran-Nya. Disaat motor yang kami naiki membelok di jalan yang agak menanjak, ternyata dari arah berlawanan ada angkot bercat putih yang menyalip deretan mobil di depannya. Angkot itu menyalip dengan mengambil 2/3 badan jalan tempat kami berada. Yang kuingat, saat itu Andi sempat membanting kemudi motornya ke arah kiri dan demikian juga dengan angkot itu.

Tabrakan pun tak terelakkan, antara stang motor dan bodi angkot. Motor yang kami naiki oleng dan jatuh ke samping kanan. Alhamdulillah aku masih tersadar saat itu. Aku ingat saat aku jatuh dan ketika helmku bersentuhan dengan aspal, kesadaranku langsung bangkit. Saat itu juga aku bangkit dan melihat keadaan. Kucari dimana angkot itu berada dan mataku memandang sekelilingku mencari keberadaan temanku. Sungguh suatu pemandangan yang sangat mengejutkanku ketika kulihat Andi sudah terduduk di tanah dengan kaki kanan yang koyak. Jari-jari kaki kanannya seolah telah lepas dari tulang telapaknya. Dan ketika kulihat jempol kakinya yang patah dan memperlihatkan tulangnya, aku hanya bisa terkejut. Kupanggil orang-orang disekitar sana untuk membantu mengangkatnya ke pinggir dan mengurus motornya.

Untunglah ada seorang wanita yang baik hati yang mau membantu kami. Dia adalah penumpang angkot yang menabrak kami dan saat kejadian, dia duduk di kursi depan. Namanya Mbak Ita. Berkat bantuannya kami bisa meminta pertanggungjawaban sopir angkot tersebut. Segera Andi dibawa ke rumah sakit terdekat, yang ternyata adalah RSP yang kami kunjungi saat kami mencari ATM tadi. Alhamdulillah, aku tak mengalami luka yang parah. Hanya lecet-lecet kecil, sedikit memar dan jaket yang robek yang menjadi penanda bahwa aku juga salah satu korban dalam kecelakaan itu.

Setelah mengurus administrasi RS, aku baru tahu bahwa Andi harus dioperasi dan jempol kaki kanannya harus diamputasi. Ya Allah, betapa terkejutnya aku. Tak terbayangkan sama sekali dalam hidupku akan mengalami kejadian seperti ini pada orang-orang dekatku. Segera kutelepon Eko, temanku yang juga teman kost Andi. Kukatakan semua yang terjadi dan dia berjanji akan datang. Tepat setelah selesai operasi, Eko datang bersama Davied ke RS.

Mereka yang menemani Andi saat aku mengurus administrasi RS, dan Eko pun banyak membantuku mengurus administrasi disana, terutama di hari terakhir menjelang kepulangan kami ke Jakarta. Malam harinya, sopir angkot tersebut datang bersama dengan perwakilan dari pemilik angkot. Setelah berunding, akhirnya disepakati bahwa hal ini diselesaikan secara kekeluargaan.

Bagian selanjutnya tak perlu aku ceritakan. Bagiku, cerita ini adalah peringatan. Peringatan bahwa kematian itu sangat dekat dengan kita. Peringatan tentang besarnya kekuasaan Allah atas hamba-Nya. Peringatan tentang betapa banyaknya nikmat Allah yang aku ataupun kita sia-siakan, yang kita lupakan dan tidak kita syukuri.

Untuk temanku Andi, semoga Allah menguatkanmu atas seluruh rasa sakitmu, menguatkanmu diatas kesabaran dan mengikhlaskanmu atas apa yang telah Diambil-Nya darimu.
Syafakallah